Bagian dari Titik Temu

“Mala, kalau kita hidup di masa bumi ini dijajah dan kita terjarah, apa kamu mau, merelakan aku untuk pergi ke barak dan berjuang di medan perang bersama banyak kawan?” ucapmu kala itu saat kita berada taman kota dan menikmati swastamita yang perlahan menghilang di bawah garis cakrawala. Banyak pemuda —selain kita— yang masih berlalu-lalang seolah mengabaikan petang yang semakin datang, hanya untuk menjalin temu perihal rindu atau pun hanya berkeliling sambil mendengarkan klakson dari arah jalan yang begitu nyaring dan dipenuhi debu.


“Seandainya bisa menolak dan berkata tidak, aku ingin sekali melakukan banyak hal agar kamu tidak pergi, pun jika dapat membawamu ke masa depan agar tidak ada lagi penjajahan, jika aku bisa, pasti aku lakukan. Tapi, bisa apa aku, aku harus mengerti kamu, banyak hal serta beban yang kamu pangku. Bahkan, negara pun pasti menginginkan pemuda yang maju, bukan hanya diam, lalu tidak tahu kapan negara ini redam atau mungkin apinya kapan padam, jika pemudanya hanya berdiam, walaupun semua itu ia lakukan demi wanitanya.”


“Akan banyak hal yang sangat aku takuti. Entah nanti aku yang akan sakit, atau kamu yang tak kembali bangkit.”


“Aku takut jika wajahmu nanti penuh lebam, atau sekalipun kamu kedinginan, banyak hal yang akan aku pikirkan. Tapi, setiap kali kamu berangkat, aku akan selalu siap untuk menyiapkan banyak-banyak makanan untuk bekalmu di barak, serta banyak senyuman yang akan aku berikan kepada priaku; pejuang yang nantinya membuat banyak orang senang.”


“Pintaku hanya satu, sekalipun kamu pergi, jangan pernah lupa kemana kamu berlabuh, atau lupa pula kemana arahmu, dan harus ingat dimana rumahmu yang nantinya kamu akan kembali pada sosok rumah juga 'kan, Ka?”


Banyak sekali hal yang masih ingin ku sampaikan kepada priaku satu ini. Aku tak henti-hentinya menjelaskan hal-hal yang harus ia mengerti sambil memerhatikan wajahnya yang kelihatan sedang mencerna kalimat-kalimatku. Singkatnya, aku takut kalau kamu pergi, begitu Ka. Tapi bisa apa, negara lebih membutuhkan, Tuhan yang memberi jalan dan jawaban, kita hanya dapat merencanakan. Tentang akhir dan bagaimana nantinya, harus kita hormati serta terima juga akhirnya.


“Masih cinta aku, 'kan?” katamu yang melontarkan pertanyaan yang sudah jelas jawabannya pasti iya lah, bodoh! Bagaimana, aku tidak bisa mencintai priaku.


“Tentu! Akan selalu dan begitu.”


Razka–ku, jangan bercita menjadi pahlawan, ya? Aku takut mencintai pahlawan, bahwasanya mereka hanya bisa mengubah kesedihan menjadi senyuman, menangis menjadi tersenyum, rasa takut mereka ubah menjadi rasa aman. Walaupun tak jarang, sebenarnya yang mereka rasakan adalah rasa sakit, demi sosok negara yang kelak penghuninya akan bersorak "Merdeka!", katanya. Aku tak mau, perjuanganmu kelak hanya akan seperti poster sekolah atau pun patung di taman kota, yang di pajang sampai bentukannya besar begitu, tetapi tetap dilewati dan diabaikan.

Kalau aku dapat berubah menjadi tombak, aku lebih menyukai hal itu, aku bisa menjadi pelindungmu —meski tak selamanya. Namun, setidaknya dapat memberikan rasa aman untukmu, walaupun hanya sekali atau dua kali.


Razka, merdeka itu bukan soal hanya bersorak dengan lantang sambil mengibarkan bendera banyak-banyak. Bukan pula tentang ekonomi atau pun politik yang merdeka. Tapi harus kamu tahu, hati juga patut merdeka.


Tetap jadi dirimu yang selalu aku mau, tidak perlu menjadi pejuang atau super hero di film-film itu, cukup menjadi Razka–ku, yang mau membahagiakan atau pun akan selalu ingin aku bahagiakan.


Razka, jadi manusia biasa saja. Bisa, 'kan?

Komentar

Postingan Populer