Evaporasi
Begini, kita tidak akan pernah tahu akan bertemu siapa dan berpisah dengan siapa—termasuk apa yang akan kita dapatkan, dan juga kejadian seperti apa yang akan membuat kita kehilangan. Mungkin evaporasi benar adanya, benda akan terbentuk di satu titik lalu menguap dan tidak terlihat bagaikan nyamuk yang tiba-tiba menyengat karena kita tidak fokus melihat (terkadang juga karena terlalu penat). Aku harus bercerita hal kecil yang aku yakin bahwa kamu sudah tahu: stasiun, bandara, terminal dan pelabuhan menjadi tempat berlangsungnya dua cerita, kita akan melihat lambaian tangan dari orangtua yang akan ditinggalkan anaknya ke luar kota, entah untuk bekerja, pun menempuh ilmu setinggi yang ia bisa. Atau melihat dua saudara saling melemparkan senyum gembira karena perpisahan yang terlalu lama dan tidak sadar bahwa mereka sudah termakan usia. Suara lembut keluar dari speaker di bandara, teriakan nyaring dari kenek terminal yang mengumbara, ombak yang mencapai batu-batu kecil di pertepian (juga mengejutkan kepiting yang tengah berjalan kencang), dan juga suara gerbong kereta yang melewati stasiun-stasiun kota, semuanya akan menjadi pengawalan dari sebuah cerita yang kita tidak tahu bagaimana alurnya saat kita sampai di tempat yang kita maksud, “Begini harusnya.”
Mungkin aku harus sedikit bersyukur untuk patung-patung selamat datang di kota, walaupun kita menjadi terlalu sering melihatnya —dan disambutnya. Tapi, setidaknya kita tahu bahwa kita sampai di pengawalan yang akan kita hadapi menjadi bait dari isi yang nantinya akan kita lampirkan, bukan? Yang aku sukai dari bagian pusat kota, daun masih bermekaran di pinggiran trotoar, selain untuk menyerap polusi yang tidak sedap untuk rongga. Namun, juga cantik untuk keindahan yang dilihat mata. Banyak anak muda juga tua, yang berlalu lalang untuk berolahraga (dan setelahnya menyambut lontong kari yang disajikan Pak Ardi yang berjualan tidak jauh dari alun-alun di arah kiri), serta cafe-cafe yang bergaya klasik dan nyentrik menjadi sasaran utama khalayak muda, salah satunya yang tengah kami lewati saat ini.
“Aku lebih suka menonton sebenarnya, dibandingkan membaca. Dulu, sangat dulu, ingat yaa, itu dulu—” katanya dengan pengucapan 'dulu' yang diulang dengan pelan seolah bercerita kepada anak tujuh tahun yang sangat membutuhkan penjelasan serta diberikan penekanan. Padahal, ya aku tau, bodoh. Itu dulu lalu apa setelahnya? Aku ingin sekali menjawab seperti itu dan aku jadikan trenggiling kepalanya, tapi aku akan mendengarkan lebih dulu, ya dulu.
“—aku suka membaca. Namun, sekarang jika terlalu panjang, aku akan mudah bosan dan merasa bahwa usiaku terlalu lekang dan terkekang jika terus-terusan berkutat di satu tempat untuk membaca satu buku hingga tamat. Yang aku tahu halamannya sangat banyak dan akan membuatku muak,” jelas pria yang aku temui di Warmindo pada Mei lalu (yang setelahnya aku tahu bahwa ia adalah salah satu makhluk bumi yang menginginkan hidup bersama mie untuk separuh hidupnya, selain idola yang ia puja setiap harinya). Matanya tidak termasuk bulat, aku harus berkata bahwa—jika ia tertawa, semua orang akan memiliki peluang besar untuk berlari dan pulang ke rumah masing-masing, yang dimana ia tidak akan sadar bahwa tawanya menyembunyikan matanya juga (ya, dia termasuk manusia yang memiliki mata kecil). Cara makannya seperti manusia pada umumnya, tidak ber–kokok, pun tidak tiba-tiba mengeluarkan taring. Karena kita sedang bercerita salah satu pria di bumi, bukan makhluk di salah satu cerita fantasi. Walaupun terkadang kepalanya ingin aku jadikan samsak, akibat ulahnya yang kocak. Badannya yang lumayan tinggi, mungkin jika kalian membutuhkan tiang untuk lampu di taman lawang, dia salah satu orang yang dapat segera dihubungi. Bahunya yang lebar, juga ada dua telinga yang siap ditarik jika ia mulai mengusik. Pokoknya, seperti pria dewasa pada umumnya, walaupun terkadang butuh mandi bola, sepertinya.
Setelah beberapa bulan kami mengenal dan mendengarkan beberapa ceritanya; bagaimana ia mendeskrpsikan hal yang ia suka, bagaimana pekerjaannya yang membabi buta, bagaimana tontonan yang ia kurang suka, kebenciannya terhadap kaos ultraman yang akan aku berikan padanya secara cuma-cuma, ekspresi datarnya setiap kali aku mengajak memakai alas kaki berbentuk dinosaurus dan wajahnya seolah menjawab “Ora urus!”, tentang soto yang akan menjadi ide utama (termasuk opsi satu-satunya) yang akan ia pilih untuk makan siang saat jam istirahat tiba. Juga, tentang bingungnya isi kepala dia untuk memilih makan malam yang idenya tak kunjung ia tentukan, hingga jam pulang sudah mengingatkan bahwa ini sudah saatnya bubar dan menyelesaikan pekerjaan. Atau gerutu tentang kegiatan berkumpul yang dilakukan oleh anggota keluarganya yang selalu ia hindari, “Aku lebih suka membahas ikan koki yang sampai sekarang tidak pernah benar-benar mendapatkan pekerjaan yang berdiri di atas kaki, seperti para juru masak yang berkutat di dapur-dapur dan memastikan bahwa masakannya tidak akan membuat orang mati. Atau bermain game yang kamu benci untuk semalaman penat hingga melupakan makan, dan setelahnya kamu berteriak bahwa kamu akan melemparkan granat,” jelasnya dengan pandangan yang penuh. Ya, harus aku akui, bahwa dia salah satu pengisi bumi yang menyusahkan diri sendiri. Bermain game hingga larut yang ia sadari bahwa esok pagi wajahnya akan kusut.
Namun bagaimanapun, aku harus berterima kasih atas game-game yang membuat kepalanya pening. Karena dengan itu, lebih baik ia menggerutu tentang musuh yang membuat timnya berlutut daripada mendengarkannya membahas perihal kentut.
Kembali ke jalanan pusat kota yang tidak terasa sudah mengantar kami ke tempat yang kami tuju sejak mula. Suara koper dari setiap sudut semakin jelas, orang-orang berhamburan dan sedikit mengeluh akibat cuaca yang panas, juga suara pengumuman dari speaker yang keras. Aku harus bilang bahwa ini adalah akhiran tentang pria gila yang aku temui saat tidak sengaja; membawa kesenangannya, datang dengan cerita anehnya, lalu pamit dari musim seminya.
Komentar
Posting Komentar