Rotasi yang mesti
Mungkin harus aku bilang, kamu pria yang ingin aku ajak diskusi perihal bumi itu bulat atau datar? Pertanyaan yang terbilang biasa dan mungkin beberapa orang menyebut ini membosankan. Namun selagi kamu yang aku tahu duduk di sebelah kanan (dan aku yang mendengarmu dari kiri). Semuanya akan berubah menjadi berkenan, hal biasa menjadi berkesan dengan candaan yang keluar begitu spontan. Katamu, yang memilih bumi itu datar lain kali harus mencoba menaiki bianglala, aku begitu tertarik hingga mengalihkan perhatianku dari tiang-tiang beralih ke pria yang wajahnya penuh tenang—sebenarnya ini hanya alasan yang tabu, agar kamu tidak tahu bahwa kamu selalu menjadi objek mataku. Satu ekspresi pertanyaan yang langsung kamu tangkap, segera kamu berikan jawaban yang harus terungkap.
“Amara, kita berputar dan duduk-duduk di kursi yang tersedia. Sama sekali tidak terjungkal seperti baliho yang terkena angin. Badan tidak ikut berputar seperti badut Vivo yang menari mengikuti alunan musik. Namun, mesinlah yang 'berotasi', kita hanya menjadi salah satu pengisi bumi yang diam tapi membantu bumi berputar sesuai poros yang mesti,” katamu dengan penjelasan panjang dengan satu kali tarikan napas. Aku melihat ekspresi serius, yang tentu saja aku dapat menangkap bahwa kamu sangat yakin dengan satu arus. Keluar dari zona percakapan bumi, jika aku boleh berkata, matamu begitu bulat dan berkilau. Rambut yang tidak begitu lurus, badan yang sehat tapi agak kurus, senyum tipis yang selalu keluar setiap kali kamu berbincang hal seru bersamaku (aku senang bahwa itu adalah aku). Dan hidung yang selalu menangkap wangi melon akan menjadi pelindungmu di hari tua. Pujian tampan mungkin sudah sering kamu terima. Namun, kamu rupawan dengan segala yang kamu punya. Aku harus jujur bahwa David Beckham tetap menjadi pria dewasa yang aku suka. Tapi, kamu dapat menjadi pria muda yang aku puja (juga).
Kembali pada bumi, aku setuju pada penjelasanmu tentang rotasi yang mesti. Juga kita yang akan bertambah usia dan selanjutnya menjadi tua (atau mati muda, kita tidak pernah tahu 'kan?) karena perputaran siang dan malam, yang membuat kita sadar bahwa terkadang hidup juga ada kelam.
Kamu akan menjadi tua dengan gagah dan membuatku ingat kelak bahwa pria tua ini yang membuatku senang dengan pertemuan yang akan menjadi kenang. Mungkin The Mills Brothers pada lagu 'Till Then' benar. Maka dari itu, ayo bermimpi tentang apa yang akan terjadi. Maka dari itu, kita akan memanggil setiap memori.
Kelak, menyukaimu mungkin akan menjadi irama yang melantunkan kisah lama. Namun, mencintaimu akan menjadi agenda yang berlangsung lama. Suatu hari, aku akan iri melihat laptop yang akan selalu menemanimu di banyak hari: menyaksikan lelahmu, suntukmu, makan yang kamu sempatkan sekalipun sedang berkutat pada data yang harus diinput, termasuk melihat senyummu karena merasa pekerjaan tidak semenyiksa hari lain yang amat larut. Mungkin juga aku harus berkata, bahwa aku akan iri dengan banyak orang yang dapat melihatmu begitu sering, alarm ponselmu yang berdering untuk memberi tahu bahwa kamu memiliki jadwal penting, serta animanga yang menjadi bacaanmu di malam yang hening. Namun dengan itu—begitulah kamu tumbuh, begitulah aku melihat sosokmu yang tenang dan kadang rapuh, begitulah caraku melihat kamu yang terkadang senang dan dihadapi hari esok dengan sebuah perang—di tempat kerjamu yang harus kamu kunjungi dari Senin yang muram hingga Jumat malam. Aku juga harus jujur, bahwa kamu cerdik menghadapi sesuatu dengan taktik. Harimu mungkin sangat padat, mengetahui banyak hari yang membuatmu penat. Namun setelahnya, kamu memberikan senyuman secercik dan berkata bahwa semua berjalan baik. Walaupun terkadang harus kembali mengejekku dan berkata bahwa akan banyak memuji di hari esok yang dimana itu hanyalah alasan untuk sogok! Tapi sebenarnya, aku sama sekali tidak pernah menjadikan itu sebuah masalah. Walaupun kamu pasti sering melihatku seolah dirimu membuatku marah, pada hakikatnya, aku senang bahwa kamu kembali terarah setelah menunjukkan banyak tawa dan menjulurkan lidah bahwa kamulah pemenang dari segala penguji amarah.
Aku tidak akan sungkan berkata bahwa kamu adalah kutu kupret yang harus aku teriaki “Dasar monyet!”. Aku juga tidak akan sungkan untuk mencubit keras pinggangmu saat kamu berkata bahwa aku mendapatkan potongan rambut yang buruk. Namun dengan begitu, aku dapat melihatmu sebagai pria muda yang berjalan di usia dewasa dengan banyak tawa.
Jangan lupa untuk tetap memiliki banyak harap, agar hidup tetap berjalan untuk semua hal yang ingin kamu rangkap dan cita yang segera kamu tangkap.
— 27 Febr 2023
Komentar
Posting Komentar