Surat dari Sang Pelita untuk Amara

Kepada Amara yang aku temui di pinggir kota (tidak bermaksud mengejek)

Ke–kabupatenan–mu itu harus tetap aku sebut di dalam surat yang akan aku isi dengan berbagai cerita, yang aku senangi di setiap baitnya walaupun kita belum memiliki kelengkapan di dalam alurnya. Aku senang bahwa aku selalu menerima banyak cerita yang terkadang alurnya begitu kacau, dari mulai saat kamu bermimpi akan membeli udon tapi kamu berkata bahwa kamu akan membeli Udin. Tentang masa sekolahmu yang selalu menjadi bahan ejekanku. Hingga rengekanmu yang meminta pulang lebih awal dari bioskop karena kita menonton film horror, padahal baru saja berada di menit ke–20, aku sampai berpikir bahwa lain kali untuk membawa obor (agar ramai). Omelanmu tentang mie instant yang aku makan terlalu sering, kini menjadi alarm yang berdering. Juga tentang setiap hal kecil yang kita bahas hingga tuntas, aku merasa bahwa kamu satu-satunya yang pas.


Kamu mungkin sering mengeluh tentang rumahmu yang begitu jauh; dari tempat makan yang ramai dikunjungi orang-orang, diskon minuman yang kamu sesalkan, pun kegiatan seru yang tidak kamu temui selain di pusat kota yang kamu idamkan. Namun, aku harus berterima kasih kepada tempat yang membawamu untuk pergi ke kota, di sanalah Amara dengan segala hal yang ia suka—mungkin aku juga salah satunya?


Aku suka setiap kamu mendengarkan eluhku, yang sebenarnya memang kamu satu-satunya tempat aku dengan segala protesku. Aku suka melihat wajah kesalmu saat menungguku selama 30 menit di depan KFC (aku tidak berniat promosi). Juga tentang bagaimana kamu tertawa, karena tahu bahwa aku belum berani meminum obat di usiaku yang sudah kepala dua. Amara, apakah tidak masalah jika aku lebih dari suka?

Komentar

Postingan Populer