Aku Suka Saat Aku Bersama Anak Itu

Aku suka saat aku bersama anak itu. Haruskah aku sebutkan bahwa dia bukan sosok yang pintar, mungkin juga dia masih bisa aku ajak main komedi putar. Walaupun setelahnya dia mengumpat, “Dasar kekanakan,” ucap manusia yang merengek ingin bergandengan di tangga jalan. Kadang juga bergelendotan, membuatku merasa bahwa selain berpacaran, aku juga seperti membawa monyet Ragunan.


Aku suka saat aku bersama anak itu. Rambutnya yang tidak selalu tertata, bajunya yang kembali kusut padahal sudah disetrika, senyumnya yang masih ia usahakan padahal sudah lelah dengan pekerjaan, keningnya yang mulai mengerut karena merasa tidak mendapatkan pelukan, diamnya yang kadang membuatku keheranan sekaligus kesepian, atau marahnya yang kadang aku pikir bahwa ia sedang kerasukan gorengan bakwan. “Haruskah aku bawa ke orang pintar?” pikirku dengan ide yang tidak masuk akal. Setiap kali ia mengomeliku karena kesal. Namun, setelahnya kami akan berbaikan, tentu saja dengan banyak penjelasan. Karena tidak baik jika terlalu lama saling menghadap, tapi tidak saling tatap, bukan 'kah? 


Aku suka saat aku bersama anak itu. Setiap kali aku mengeluh tentang hari yang penat dan berharap besok kiamat (tidak begitu serius, sebenarnya). Sosoknya yang menjadi penasihat dan mengeluarkan kalimat yang seperti wasiat, “Kamu mungkin menyerah, tapi aku tidak,” lontaran dari manusia yang merasa bahwa dunia seperti neraka, padahal 'hanya' menyelesaikan soal matematika. Dan berkeluh, tentang statiska yang seolah membuatnya kehilangan nyawa dan gairah dunia. Padahal sebelumnya bersikeras meyakini diri sendiri bahwa dia adalah penyelamat dunia, yang siap bertempur kapan saja layaknya Captain Amerika. Yang selalu aku yakini bahwa Steve Rogers tidak akan membawa perisai saat menggoreng ikan (tidak seperti sosok manusia sedang aku ceritakan).


Aku suka saat aku bersama anak itu. Senin mungkin akan berubah jadi sabtu. Malam mungkin akan menjadi kelabu. Tapi bersamanya akan selalu menjadi hal baru. Yang selalu ingin aku ikuti alurnya. Yang selalu aku ingin saksikan pasang – surutnya. Yang selalu aku nikmati kisah awal, termasuk bagaimana akhirnya. Juga tentang bagaimana aku bisa membantu dia untuk mengisi banyak hari bahagia termasuk sedihnya. Tidak perlu bersusah payah jadi pahlawan dunia, bisakah kamu cukup menjadi orang yang aku suka saja?

Komentar

Postingan Populer